Selasa, 22 September 2009

Resensi Buku Paris Lumiere de l'Amour : Catatan Cinta dari Negeri Eiffel

Judul Buku : Paris Lumiere de l'Amour : Catatan Cinta dari Negeri Eiffel
Penulis : Rosita Sihombing
Penerbit : Lingkar Pena
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : 186 hlm


Siapa yang belum pernah mendengar perihal kota paling romantis di dunia yang satu ini? Siapa pula yang tidak tahu tentang kemegahan Eiffel atau keindahan Champs-Elysees? beragam informasi dan berita mengenainya dapat kita temukan dengan mudah di media. Namun, bagaimana jika Paris dihadirkan dalam bentuk kisah-kisah keseharian yang ditulis dengan sepenuh hati oleh warga kotanya yang notabene berdarah Indonesia?

Paris Lumiere de l'Amour : Catatan Cinta dari Negeri Eiffel adalah curahan hati penulis dan pengamatan pribadi terhadap lingkungan sekitarnya. Uniknya, aneka peristiwa tersebut dipaparkan dari sudut pandang seorang perempuan berlatar belakang Timur, sekaligus seorang FTM (Full Time Mother) yang berdomisili di kota yang bersangkutan.

Banyak hal menarik yang diperoleh dari bab demi babnya. Misalnya, dalam Bab 1 Voila, Paris!. Dalam bab ini ada hal yang menceritakan Suka Duka Angkutan Umum. Di negara maju seperti Perancis yang notabene sudah mengalami kemajuan pesat dalam teknologi masih menghargai adanya Velib (sepeda sewaan) (hal. 9 - 14). Di Perancis pun Ada Tunawisma. Perancis negara maju, pasti ada masalah sosial termasuk menyangkut pengemis atau orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Setiap bulan seorang tunawisma mendapat tunjangan rutin dari pemerintah Perancis sekitar 300 euro. Kebijakan pemerintah Perancis untuk warganya yang menganggur (hal. 21 - 23). Adapun China Town, Surga Belanja Orang asia, Tang feres merupakan distributor makanan Asia terbesar di wilayah Eropa. Disana terdapat bahan makanan ala Indonesia disana-sini, sayur kangkung, sawi, kacang panjang, petai, daun pisang, tahu kuning, aneka cendol. Ada juga aneka buah-buahan khas Asia. Belum termasuk makanan kalengan seperti kelapa muda, kolang-kaling, rambutan dan masih banyak lagi (hal. 31 - 34).

Dalam Bab 2 Bon Appetit! Ada hal menarik karena dipaparkan adanya Gado-Gado Paris (yang dinamai sendiri oleh Penulis) (hal. 47 - 49). Adapun tulisan Lain Negara, Lain Teman Kejunya. Di Perancis, keju dijadikan menu utama. Teman makanan yang asin, spaghetti misalnya atau dimakan sendiri sebagai penutup (hal. 51 - 52).


Dalam Bab 3 Aktivitas-Aktivitas Seru. salah satunya terdapat tulisan Asyiknya 14 Juli, seperti telah diketahui 14 Juli merupakan tanggal yang amat bersejarah bagi masyarakat Perancis. pada tanggal tersebut, tepatnya tahun 1789 ketika Louis XVI berkuasa, revolusi Perancis meletus. Runtuhnya penjara Bastille merupakan awalnya. Setiap tanggal 14 Juli, masyarakat Perancis mengadakan perayaan diantaranya pesta kembang api dan parade militer. Tidak jauh berbeda dengan peringatan kemerdekaan ala Indonesia. Bedanya di Perancis tidak diadakan lomba-lombaan seperti panjat pinang, makan kerupuk atau balap karung (hal. 61 - 64).
Adapun kisah menarik dalam Demam Piala Dunia 2006 di Jerman. Paris identik pula dengan sepakbola. Lihat saja para pecinta berat sepakbola negeri ini, diantaranya Paris Saint - Germain (klub sepakbola Paris) yang kegilaannya tidak jauh beda dengan pendukung fanatik arek Suroboyo. Pada pertandingan Piala Dunia 2006 di Jerman, kehebohan para fans tim Les Bleus (sebutan untuk tim sepakbolanya Perancis) dapat dilihat dengan jelas. Setidaknya setelah tim Perancis kalah dari tim Italia. Namun, bukan Perancis namanya jika tidak mengenal pesta. Kendati para supporter merasa kecewa dengan kekalahan pada Piala Dunia kala itu, umumnya mereka tetap merasa bangga. Tak ada satu pun teriakan atau cacian kepada tim kesayangan Perancis itu. Mereka tetap menunjukkan rasa terima kasih atas usaha keras para pemain untuk mengharumkan nama bangsa (hal. 79 - 81).

Di dalam Bab 4 Keseharian. Adapun kisah menarik yang dialami penulis dan keluarga mengenai pengalaman tertinggal kunci apartemennya. Penulis menceritakan betapa mahalnya harga kunci. Tukang kunci itu bekerja tidak lebih dari 30 menit. Ongkosnya sebesar 577.32€, tambah sedikit saja bisa membeli tiket pesawat PP Jakarta - Paris (hal. 89 - 92).

Di dalam Bab 5 Saat Muslim Bukan Mayoritas. Ada tulisan Istiqomah, dipaparkan Perancis yang dikenal dengan sebutan negeri Laik ini. Laik kurang lebih artinya negara yang pemerintahannya tidak berdasarkan sistem keagamaan. Contoh kongkret, sekolah-sekolah negeri tidak diperkenankan memberikan mata pelajaran agama kepada siswanya. Para siswa, tenaga pengajar, pegawai di sekolah negeri, sampai pegawai di lembaga milik pemerintah dilarang mengenakan jilbab, salib agama Kristen dan topi yarmulke agama Yahudi. Meskipun banyak kecaman dunia terhadap larangan ini, pemerintah tidak ambil pusing. Suka atau tidak suka, masyarakat yang tinggal di negeri ini harus menjalankannya (hal. 103 - 107).
Selain itu, masih di Bab 5 terdapat tulisan Nama Arab di CV? Nanti Dulu...!.
Ketika rasisme terhadap Italia dan Afrika mulai tidak kentara pada era 80-an, masyarakat Perancis keturunan Arab adalah korbannya. Masyarakat keturunan Arab disini umumnya dikenal sebagai orang-orang Magreb (yang berasal dari Aljazair, Tunisia dan Maroko). Salah satunya yang sering dipersoalkan adalah mengenai nama mereka yang berbau Arab. Dan ini tidak terjadi di Perancis saja, di negara Barat lain pun demikian. Beberapa waktu lampau kaum muda Perancis keturunan Magreb merasa merasa tertekan dengan situasi demikian. Mereka kesulitan memperoleh pekerjaan di Perancis, karena sudah pasti CV yang mereka serahkan ke perusahaaan mencantumkan nama berbau Arab (hal. 129 - 131). Adapun tulisan Bulan Suci di Paris. Dipaparkan berpuasa di Perancis membutuhkan perjuangan yang lebih. Selain kultur budaya dan agama, faktor alam juga mempertebal perbedaannya. Di musim panas berpuasa bisa sampai 19 jam (hal. 139 - 141).


Buku ini berisi kumpulan kisah menarik yang merupakan pengalaman yang dialami oleh Penulis. Penulis tak hanya menceritakan sisi positif mengenai Paris tetapi menceritakan sisi negatifnya juga. Setidaknya, buku ini diharapkan dapat menjawab rasa ingin tahu banyak kalangan tentang kehidupan di kota Paris, seperti keadaan sosialnya, budaya, ekonomi, politik, agama, serta aspek lainnya.

Arlin Widya Safitri, Mahasiswi Jurusan Ilmu Sejarah Fasa Unpad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar