Teruntuk: Tetehku Dian G Rahayu
Menjelang hari pernikahannya
Keindahan dunia membuaiku
dan tak memandang ke arahmu
Gelombang air laut yang terus membawa arus
tak menghanyutkan ke dalam deras arusmu
Ku terapung dalam sebuah perahu
yang tak tentu arah tujuan
Telusuri riak-riak kecil, gelombang maupun badai
tak membuatku pantang pulang
Dalam perjalanan ditemani kicauan burung-burung
seperti hendak menghibur
Langit biru selalu setia menemani
kemanapun hendak pergi
Angin semilir berhembus kencang
membawa ke suatu tempat
Dimana kau berada dalam nuansa bening
yang tak disangka merupakan pelabuhan terakhir
Tak ingin beranjak pergi kemanapun
dan ingin selalu singgah di pelabuhan terakhir
untuk selamanya
Arlin Widya Safitri
Bandung, 24 Maret 2011
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Maret 2011
Hidangan Tak Terlihat
Teruntuk: seorang ibu di Ponorogo, Jatim
Suara ayam berkokok selalu nyaring di telinga
Mengingatkan hari ini harus berpacu dengan waktu
Raga renta, dunia yang gelap tak menyurutkan tekad
Keringat kian deras menghujani tubuh
Tak menjadi soal, demi anak gadis tercinta
Membasuhi tubuh dengan percikan air
Mengadu resah pada Sang Pencipta
Masih adakah rezeqi di hari ini?
Semangat tak pernah padam
Tak menjadi soal, demi anak gadis tercinta
Pelukan manis dari yang tercinta
“Sayang Nak, dari lahir tak pernah tahu rupamu
hanya bisa meraba lekukan dan mencium bau tubuhmu”
Itu sudah cukup membuat semangat
Ibu pulang hari ini, Nak!
Membawa sesuatu yang mungkin tak cukup kau bagi
Pelan mulai menata hidangan
Semuanya untuk anak gadis tercinta
Bagiku wanginya sudah cukup membuat rasa lapar hilang
Arlin Widya Safitri
Bandung, 02 Maret 2011
Suara ayam berkokok selalu nyaring di telinga
Mengingatkan hari ini harus berpacu dengan waktu
Raga renta, dunia yang gelap tak menyurutkan tekad
Keringat kian deras menghujani tubuh
Tak menjadi soal, demi anak gadis tercinta
Membasuhi tubuh dengan percikan air
Mengadu resah pada Sang Pencipta
Masih adakah rezeqi di hari ini?
Semangat tak pernah padam
Tak menjadi soal, demi anak gadis tercinta
Pelukan manis dari yang tercinta
“Sayang Nak, dari lahir tak pernah tahu rupamu
hanya bisa meraba lekukan dan mencium bau tubuhmu”
Itu sudah cukup membuat semangat
Ibu pulang hari ini, Nak!
Membawa sesuatu yang mungkin tak cukup kau bagi
Pelan mulai menata hidangan
Semuanya untuk anak gadis tercinta
Bagiku wanginya sudah cukup membuat rasa lapar hilang
Arlin Widya Safitri
Bandung, 02 Maret 2011
Minggu, 30 Januari 2011
Alam Mengajarkanku Kehidupan
Untuk: sahabatku Sri Minaryanti
Pohon mengajarkanku tegap melawan tempaan angin maka aku setia berdiri tegap
Bunga mengajarkanku menyebarkan wewangian maka aku setia berada di taman
Matahari mengajarkanku menyinari maka aku setia menjadi penerang
Laut mengajarkanku badai maka aku setia berlayar
Gurun pasir mengajarkanku kucuran keringat maka aku setia berjalan diatasnya
Gunung mengajarkanku ketinggian maka aku setia berada di puncaknya
Burung mengajarkanku kicauan maka aku setia bernyanyi
Ikan mengajarkanku menyelami lautan maka aku setia berenang
Kuda mengajarkanku berlari kencang maka aku setia berlari
Pelangi mengajarkanku keindahan maka aku setia memandanginya
Bintang mengajarkanku kerlipannya maka aku setia bersinar
Bumi mengajarkanku berpijak maka aku setia hidup didalamnya
Arlin Widya Safitri
Bandung, 30 Januari 2011
Pohon mengajarkanku tegap melawan tempaan angin maka aku setia berdiri tegap
Bunga mengajarkanku menyebarkan wewangian maka aku setia berada di taman
Matahari mengajarkanku menyinari maka aku setia menjadi penerang
Laut mengajarkanku badai maka aku setia berlayar
Gurun pasir mengajarkanku kucuran keringat maka aku setia berjalan diatasnya
Gunung mengajarkanku ketinggian maka aku setia berada di puncaknya
Burung mengajarkanku kicauan maka aku setia bernyanyi
Ikan mengajarkanku menyelami lautan maka aku setia berenang
Kuda mengajarkanku berlari kencang maka aku setia berlari
Pelangi mengajarkanku keindahan maka aku setia memandanginya
Bintang mengajarkanku kerlipannya maka aku setia bersinar
Bumi mengajarkanku berpijak maka aku setia hidup didalamnya
Arlin Widya Safitri
Bandung, 30 Januari 2011
Jumat, 14 Januari 2011
Senyum Januari
Mendung yang selalu menaungi diri
Setia menemani kemana pun pergi
Lambat laun mendung itu berseri
Berganti cahaya pagi
Takut masih sempat bersarang di dalam sanubari
Mungkin kali ini hanyalah mimpi
Tampak jelas di depan cahaya pagi menyinari
Ruang diri yang lembab kini mewangi
Wajah diri masih pucat pasi
Berdecak kagum tiada henti
Merdunya suara angin sungguh membuat ingin bernyanyi
Tak disadari tersungging senyum Januari
Arlin Widya Safitri
Bandung, 13 Januari 2011
Setia menemani kemana pun pergi
Lambat laun mendung itu berseri
Berganti cahaya pagi
Takut masih sempat bersarang di dalam sanubari
Mungkin kali ini hanyalah mimpi
Tampak jelas di depan cahaya pagi menyinari
Ruang diri yang lembab kini mewangi
Wajah diri masih pucat pasi
Berdecak kagum tiada henti
Merdunya suara angin sungguh membuat ingin bernyanyi
Tak disadari tersungging senyum Januari
Arlin Widya Safitri
Bandung, 13 Januari 2011
Pedas Itu Cabai
Ada yang tahu rasa pedas itu apa?
Ada yang tahu harga ikut pedas?
Tak ada yang tahu meja makan kehilangan kawan
Kawan kecilnya yang mewarnai
Sedikit membuat keringat
Loh, kali ini harus puasa pedas
Kemana perginya pedas?
Ada yang tahu rasa pedas itu apa?
Ah, pedas itu cabai!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 12 Januari 2011
Ada yang tahu harga ikut pedas?
Tak ada yang tahu meja makan kehilangan kawan
Kawan kecilnya yang mewarnai
Sedikit membuat keringat
Loh, kali ini harus puasa pedas
Kemana perginya pedas?
Ada yang tahu rasa pedas itu apa?
Ah, pedas itu cabai!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 12 Januari 2011
Rabu, 22 Desember 2010
Nisan Putih
dari jauh mengunjungi tempatmu kini
sunyi dan sejuk
pantas dirimu betah tinggal disini
semakin ku dekatkan tubuh
di depan nisan putih
tempat tubuhmu terkujur kaku
ku letakkan bunga
agar dirimu dapat mencium wewangian
dalam tidurmu
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
(Terinspirasi melihat deretan makam di Pemakaman Cina Sentosa, Bangka)
Arlin Widya Safitri
sunyi dan sejuk
pantas dirimu betah tinggal disini
semakin ku dekatkan tubuh
di depan nisan putih
tempat tubuhmu terkujur kaku
ku letakkan bunga
agar dirimu dapat mencium wewangian
dalam tidurmu
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
(Terinspirasi melihat deretan makam di Pemakaman Cina Sentosa, Bangka)
Arlin Widya Safitri
Pasir Padi 2
yang terbentang luas, saat senja mulai menyelimuti
dari arah laut
adalah tepi pantai Pasir Padi
yang tengah terbuai hembusan angin semilir
dari arah langit
adalah aku yang tengah menikmati
pandangan mata jauh tertancap tajam
terpesona
pada karya agung Sang Pencipta
ragaku seakan merasakan kehadiranmu
di pantai ini
senyum hangat menyambut kehadiranmu
kau diam mematung
tak sepatah kata terucap
terlihat sosok tubuh dari balik punggungmu
senyum hangat seketika sirna
sebuah bisikan terdengar samar
kuberlari kecil mengejar suara bisikan itu
entah dimana
langkahku kini telah menyeretku jauh
semakin jauh
tak kulihat dirimu kini
terhapus dalam jejak langkah
tertimbun pasir putih
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
Pantai Pasir Padi
Arlin Widya Safitri
dari arah laut
adalah tepi pantai Pasir Padi
yang tengah terbuai hembusan angin semilir
dari arah langit
adalah aku yang tengah menikmati
pandangan mata jauh tertancap tajam
terpesona
pada karya agung Sang Pencipta
ragaku seakan merasakan kehadiranmu
di pantai ini
senyum hangat menyambut kehadiranmu
kau diam mematung
tak sepatah kata terucap
terlihat sosok tubuh dari balik punggungmu
senyum hangat seketika sirna
sebuah bisikan terdengar samar
kuberlari kecil mengejar suara bisikan itu
entah dimana
langkahku kini telah menyeretku jauh
semakin jauh
tak kulihat dirimu kini
terhapus dalam jejak langkah
tertimbun pasir putih
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
Pantai Pasir Padi
Arlin Widya Safitri
Pasir Padi 1
yang terbentang luas, saat senja mulai menyelimuti
dari arah laut
adalah tepi pantai pasir padi
yang tengah terbuai hembusan angin semilir
dari arah langit
adalah aku yang tengah menikmati
pesona pasir putihmu menggairahkan imajinasi
sekedar duduk termenung
beralaskan butiran pasir putih
sungguh elok rupamu Pasir Padi
pantai yang masih perawan di negeri ini
ada takut suatu hari pantaimu terkoyak
malang bagai pantai lainnya
pandangan mata jauh tertancap tajam
terpesona
pada karya agung Sang Pencipta
bibir ini masih basah berucap
terlihat tengah sekelompok remaja menjamahmu
tak mempedulikan keelokanmu
mencabik-cabik tanpa mendengar resahmu
mungkin kini,
pantaimu masih terlihat elok rupawan
miris di masa akan datang hanya tinggal kenangan
padahal wahai,
yang seketika membuai dari arah laut
pesona butiran pasir putih
hembusan angin semilir dari arah langit
adalah pantai Pasir Padi
hujan yang seketika jatuh dari mata langit
juga matamu Pasir Padi,
inikah balasan dari keelokanmu
menjamahmu dengan semena-mena
hingga keperawananmu luntur
Arlin Widya Safitri
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
Pantai Pasir Padi, Bangka.
dari arah laut
adalah tepi pantai pasir padi
yang tengah terbuai hembusan angin semilir
dari arah langit
adalah aku yang tengah menikmati
pesona pasir putihmu menggairahkan imajinasi
sekedar duduk termenung
beralaskan butiran pasir putih
sungguh elok rupamu Pasir Padi
pantai yang masih perawan di negeri ini
ada takut suatu hari pantaimu terkoyak
malang bagai pantai lainnya
pandangan mata jauh tertancap tajam
terpesona
pada karya agung Sang Pencipta
bibir ini masih basah berucap
terlihat tengah sekelompok remaja menjamahmu
tak mempedulikan keelokanmu
mencabik-cabik tanpa mendengar resahmu
mungkin kini,
pantaimu masih terlihat elok rupawan
miris di masa akan datang hanya tinggal kenangan
padahal wahai,
yang seketika membuai dari arah laut
pesona butiran pasir putih
hembusan angin semilir dari arah langit
adalah pantai Pasir Padi
hujan yang seketika jatuh dari mata langit
juga matamu Pasir Padi,
inikah balasan dari keelokanmu
menjamahmu dengan semena-mena
hingga keperawananmu luntur
Arlin Widya Safitri
Pangkal Pinang, 5 Desember 2010
Pantai Pasir Padi, Bangka.
Senin, 20 Desember 2010
Tali Sepatu
Sapalah gedung pencakar langit pagi ini
Tak membuat pagiku berseri
Ku tundukkan kepala ke arah kedua kaki
Tampak sepasang sepatu tanpa tali sepatu
Makna pagi ku mengerti
Aku tak mampu pergi pagi ini
Sapalah mentari pagi ini
Kelak membuat pagiku berseri
Kutelusuri jalanan penuh sesak
Kutemui pak tali sepatu
Sungguh membuat pagiku berseri
Adakah yang menyapamu wahai pak tali sepatu?
Kau begitu tegang, berdiri dan diam mematung
Hilir mudik orang silih berganti
Kau hanya berani memandang
Wahai pak tali sepatu
Kau membuat pagiku berseri
Memberi warna indah sepasang sepatu
Kelak kau akan temui pelangi
Jatinangor, 14 Desember 2010
(Terinspirasi oleh pedagang tali sepatu di gerbang kampus Unpad)
Arlin Widya Safitri
Tak membuat pagiku berseri
Ku tundukkan kepala ke arah kedua kaki
Tampak sepasang sepatu tanpa tali sepatu
Makna pagi ku mengerti
Aku tak mampu pergi pagi ini
Sapalah mentari pagi ini
Kelak membuat pagiku berseri
Kutelusuri jalanan penuh sesak
Kutemui pak tali sepatu
Sungguh membuat pagiku berseri
Adakah yang menyapamu wahai pak tali sepatu?
Kau begitu tegang, berdiri dan diam mematung
Hilir mudik orang silih berganti
Kau hanya berani memandang
Wahai pak tali sepatu
Kau membuat pagiku berseri
Memberi warna indah sepasang sepatu
Kelak kau akan temui pelangi
Jatinangor, 14 Desember 2010
(Terinspirasi oleh pedagang tali sepatu di gerbang kampus Unpad)
Arlin Widya Safitri
Jumat, 17 Desember 2010
Pangeran Hujan
Gadis kecil memimpikan pangeran hujan
Duduk diantara hembusan angin kencang
Merenung dalam derasnya hujan
Mengepalkan kedua tangan menahan kedinginan
Mengharapkan pelukan hangat
Tak ada disana
Pangeran hujan tak bisa di duga
Muncul sesuka hatinya
Tak peduli kehadiran gadis kecil
Sekilas dilihat sang pangeran hujan
Gadis kecil tersenyum
Rangkaian kata pangeran hujan menghibur lara
Lambaian tangan hanya sekedar dalam dunia khayal
Bandung, 17 Desember 2010
(Kampus Unpad Dipati Ukur dalam hujan)
Arlin Widya Safitri
Duduk diantara hembusan angin kencang
Merenung dalam derasnya hujan
Mengepalkan kedua tangan menahan kedinginan
Mengharapkan pelukan hangat
Tak ada disana
Pangeran hujan tak bisa di duga
Muncul sesuka hatinya
Tak peduli kehadiran gadis kecil
Sekilas dilihat sang pangeran hujan
Gadis kecil tersenyum
Rangkaian kata pangeran hujan menghibur lara
Lambaian tangan hanya sekedar dalam dunia khayal
Bandung, 17 Desember 2010
(Kampus Unpad Dipati Ukur dalam hujan)
Arlin Widya Safitri
Kamis, 16 Desember 2010
Menjemput Malam
Berada diantara penghuni malam
Sunyi Senyap Gelap
Para hati yang bersembunyi
ditengah kegelisahan jiwa
Tempat persinggahan para hati yang lelah berkelana
Mengelilingi dunia yang tak ada mimpi
Gersang Panas Berdebu
Terbuai dalam istirahat terpanjang
Enggan untuk terperanjat
Menjemput malam
Kutemui sosok yang tengah bercumbu dengan gadis penjual korek api
Enggan kutengok ke belakang
Berlari kecil mencari malaikat penolongku
sekedar ingin bersandar dibahunya
Menarik nafas panjang menguatkan diri
Tak ingin ku kembali ke dunia tak ada mimpi
Bandung, 16 Desember 2010
(Terinspirasi oleh dunia dongeng)
Arlin Widya Safitri
Sunyi Senyap Gelap
Para hati yang bersembunyi
ditengah kegelisahan jiwa
Tempat persinggahan para hati yang lelah berkelana
Mengelilingi dunia yang tak ada mimpi
Gersang Panas Berdebu
Terbuai dalam istirahat terpanjang
Enggan untuk terperanjat
Menjemput malam
Kutemui sosok yang tengah bercumbu dengan gadis penjual korek api
Enggan kutengok ke belakang
Berlari kecil mencari malaikat penolongku
sekedar ingin bersandar dibahunya
Menarik nafas panjang menguatkan diri
Tak ingin ku kembali ke dunia tak ada mimpi
Bandung, 16 Desember 2010
(Terinspirasi oleh dunia dongeng)
Arlin Widya Safitri
Sabtu, 30 Oktober 2010
Ketika Alam Bicara
Aku pikir hanya aku yang penat
Aku pikir hanya aku yang bosan
Aku pikir hanya aku yang jenuh
Penat dengan masalah
Bosan dengan kemunafikan
Jenuh dengan keserakahan
Air liur mungkin hampir mengering
Lidah lelah berucap
Tak ada yang berubah
Semua seolah tak bergeming
Sesaat tiba alam mengguncang
Meluluhlantakan bumi
Jiwa-jiwa telah melayang
Kembali menghadap Illahi
Ada isyarat di balik bencana ini
Wahai Mentawai...
Wahai Merapi...
Isyarat dari Tuhan kepada manusia di bumi
Akankah semua mengerti?
Alam mulai penat
Alam mulai bosan
Alam mulai jenuh
Semua terjadi maka terjadilah
Ketika alam bicara
(Selamat Jalan Korban Bencana Alam Mentawai dan Merapi)
Bandung, 27 Oktober 2010
Aku pikir hanya aku yang bosan
Aku pikir hanya aku yang jenuh
Penat dengan masalah
Bosan dengan kemunafikan
Jenuh dengan keserakahan
Air liur mungkin hampir mengering
Lidah lelah berucap
Tak ada yang berubah
Semua seolah tak bergeming
Sesaat tiba alam mengguncang
Meluluhlantakan bumi
Jiwa-jiwa telah melayang
Kembali menghadap Illahi
Ada isyarat di balik bencana ini
Wahai Mentawai...
Wahai Merapi...
Isyarat dari Tuhan kepada manusia di bumi
Akankah semua mengerti?
Alam mulai penat
Alam mulai bosan
Alam mulai jenuh
Semua terjadi maka terjadilah
Ketika alam bicara
(Selamat Jalan Korban Bencana Alam Mentawai dan Merapi)
Bandung, 27 Oktober 2010
Senin, 23 Agustus 2010
Dua Anugerah Dalam Satu Waktu
Simpan saja kata-kata semu
Simpan saja janji-janji semu
Simpan senjata
Simpan amarah
Simpan semua itu namun tetap waspada
Lidah ini lelah berucap
Air liur hampir mengering
Bosan dengan penat
Tetap pada harapan
Bersyukur pada-Nya
Masih bisa merasakan yang pejuang rasakan
Hari Kemerdekaan di bulan Ramadhan
Dua anugerah dalam satu waktu
Merdeka!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 17 Agustus 2010
Simpan saja janji-janji semu
Simpan senjata
Simpan amarah
Simpan semua itu namun tetap waspada
Lidah ini lelah berucap
Air liur hampir mengering
Bosan dengan penat
Tetap pada harapan
Bersyukur pada-Nya
Masih bisa merasakan yang pejuang rasakan
Hari Kemerdekaan di bulan Ramadhan
Dua anugerah dalam satu waktu
Merdeka!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 17 Agustus 2010
Nikmatnya Ramadhan
Memasuki Ramadhan
Alam begitu riang gembira
Pepohonan menari ke kiri dan ke kanan
Mengikuti hembusan angin yang sepoi-sepoi
Bunga-bunga menyebarkan wewangian ke segala penjuru
Burung-burung tak henti-hentinya bernyanyi dengan kicauan merdu
Langit cerah berwarna biru
Matahari bersinar ke seluruh penjuru
Awan putih menandakan kesucian hati
Ombak di lautan berlaril-lari
Memasuki Ramadhan
Manusia merasakan nikmatnya hidangan lezat dari-Nya
Nikmatnya kebersamaan
Nikmatnya melafalkan ayat suci Al-Qur’an
Nikmatnya berpuasa
Nikmatnya bersedekah
Nikmatnya shalat malam
Nikmatnya berzakat
Memasuki Ramadhan
Semua berlomba mengharap ridho dan ampunan-Nya
Indahnya Ramadhan
Bulan penuh ampunan
Bulan penuh berkah
Arlin Widya Safitri
Bandung, 15 Agustus 2010
Alam begitu riang gembira
Pepohonan menari ke kiri dan ke kanan
Mengikuti hembusan angin yang sepoi-sepoi
Bunga-bunga menyebarkan wewangian ke segala penjuru
Burung-burung tak henti-hentinya bernyanyi dengan kicauan merdu
Langit cerah berwarna biru
Matahari bersinar ke seluruh penjuru
Awan putih menandakan kesucian hati
Ombak di lautan berlaril-lari
Memasuki Ramadhan
Manusia merasakan nikmatnya hidangan lezat dari-Nya
Nikmatnya kebersamaan
Nikmatnya melafalkan ayat suci Al-Qur’an
Nikmatnya berpuasa
Nikmatnya bersedekah
Nikmatnya shalat malam
Nikmatnya berzakat
Memasuki Ramadhan
Semua berlomba mengharap ridho dan ampunan-Nya
Indahnya Ramadhan
Bulan penuh ampunan
Bulan penuh berkah
Arlin Widya Safitri
Bandung, 15 Agustus 2010
Menjelang Ramadhan
Masa hidupku di dunia ini terus berkurang
Perih, sakit, luka kadang memasuki hati dan pikiran
Badai-badai kehidupan terus menghujani
Hanya keyakinan mampu mengobati
Berlari-lari mencari sesuatu pertolongan
Karib kerabat tak lagi bersahabat
Prasangka demi prasangka menghujat
Tak ada yang mengetahui niat baik dalam hati
Ya Allah SWT, hanya Engkau Yang Maha Mengetahui
Bantulah hamba-Mu ini bangkit
Untuk menanamkan niat baik dalam hati ini
Agar tumbuh subur dan bersinar
“Pancaran sinar dari dalam hati ini
sebagai jawaban atas prasangka yang ada”
Ku bersimpuh di hadapan-Mu mengharapkan kedatangan bulan Ramadhan
Bulan penuh berkah
Aku berserah diri pada-Mu
Arlin Widya Safitri
Bandung, 10 Agustus 2010
Perih, sakit, luka kadang memasuki hati dan pikiran
Badai-badai kehidupan terus menghujani
Hanya keyakinan mampu mengobati
Berlari-lari mencari sesuatu pertolongan
Karib kerabat tak lagi bersahabat
Prasangka demi prasangka menghujat
Tak ada yang mengetahui niat baik dalam hati
Ya Allah SWT, hanya Engkau Yang Maha Mengetahui
Bantulah hamba-Mu ini bangkit
Untuk menanamkan niat baik dalam hati ini
Agar tumbuh subur dan bersinar
“Pancaran sinar dari dalam hati ini
sebagai jawaban atas prasangka yang ada”
Ku bersimpuh di hadapan-Mu mengharapkan kedatangan bulan Ramadhan
Bulan penuh berkah
Aku berserah diri pada-Mu
Arlin Widya Safitri
Bandung, 10 Agustus 2010
Pasar Di Hari Minggu
Beratapkan langit. Dikala hujan, basahlah. Dikala panas terik, berkeringatlah. Dikala angin berhembus, sejuklah.
Hiruk pikuk. Berjejalan. Tak jadi masalah. Hati terpuaskan. Mata terhibur oleh pemandangan. Tubuh segar karena berjalan kaki dengan hilir mudik. Beragam tujuan menuju pasar.
Laki – laki, perempuan. Tua, muda. Pemuda-pemudi. Anak-anak. Bergerombol. Berpasang-pasangan. Menikmati hiburan yang hanya datang seminggu sekali.
Pedagang-pedagang yang tengah menanti. Ada yang duduk manis. Ada yang berdiri sambil berteriak menawarkan barang dagangannya. Berkeringat terkena sinar matahari.
Makanan, minuman, pakaian, peralatan rumah tangga dijajakan disini. Harga sangat murah menanti. Menarik perhatian pengunjung.
Petugas keamanan berdiam diri di depan pintu masuk. Tangan-tangan usil leluasa beraksi. Pengunjung hilir mudik menjadi mangsa. Tak ada yang peduli. Mungkin ini mata pencahariannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Tak heran hukum rimba berlaku di sini.
Jalanan di luar begitu padat. Disesaki oleh pengunjung dan kendaraan yang hilir mudik. Kemacetan sudah rutinitas.
Entah apa yang membuat hal ini menjadi biasa. Semua seperti dalam suatu penaklukkan. Tak disadari semua ditaklukkan oleh uang. Uang adalah penguasa peradaban saat ini. Ah, siapa peduli!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 03 Agustus 2010
Hiruk pikuk. Berjejalan. Tak jadi masalah. Hati terpuaskan. Mata terhibur oleh pemandangan. Tubuh segar karena berjalan kaki dengan hilir mudik. Beragam tujuan menuju pasar.
Laki – laki, perempuan. Tua, muda. Pemuda-pemudi. Anak-anak. Bergerombol. Berpasang-pasangan. Menikmati hiburan yang hanya datang seminggu sekali.
Pedagang-pedagang yang tengah menanti. Ada yang duduk manis. Ada yang berdiri sambil berteriak menawarkan barang dagangannya. Berkeringat terkena sinar matahari.
Makanan, minuman, pakaian, peralatan rumah tangga dijajakan disini. Harga sangat murah menanti. Menarik perhatian pengunjung.
Petugas keamanan berdiam diri di depan pintu masuk. Tangan-tangan usil leluasa beraksi. Pengunjung hilir mudik menjadi mangsa. Tak ada yang peduli. Mungkin ini mata pencahariannya dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Tak heran hukum rimba berlaku di sini.
Jalanan di luar begitu padat. Disesaki oleh pengunjung dan kendaraan yang hilir mudik. Kemacetan sudah rutinitas.
Entah apa yang membuat hal ini menjadi biasa. Semua seperti dalam suatu penaklukkan. Tak disadari semua ditaklukkan oleh uang. Uang adalah penguasa peradaban saat ini. Ah, siapa peduli!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 03 Agustus 2010
Senin, 26 Juli 2010
Potret Anak-Anak Negeri
Masa kecil bagaikan pelangi di pagi hari
Penuh warna-warni
Cerah
Pancarkan kebahagiaan
Tubuh mungil berlari riang gembira
Wajah mungil pancarkan senyuman
Canda tawa bermain teman sebaya
Mengisi hari tanpa beban
Sayang tak semua merasakan semua itu
Ada sebagian anak-anak merasakan pahitnya hidup
Sebagian menjadi korban gas elpiji
Sebagian terlantar di jalanan
Sebagian tak mengenal ayah dan ibu tercinta
Ada pula yang mengakhiri hidup akibat kerasnya kehidupan
Senyuman polos seolah lenyap
Canda tawa mendadak hilang
Kembalikan semua itu
Bagi malaikat-malaikat kecil
Arlin Widya Safitri
Bandung, 23 Juli 2010 (Memperingati Hari Anak Nasional)
Penuh warna-warni
Cerah
Pancarkan kebahagiaan
Tubuh mungil berlari riang gembira
Wajah mungil pancarkan senyuman
Canda tawa bermain teman sebaya
Mengisi hari tanpa beban
Sayang tak semua merasakan semua itu
Ada sebagian anak-anak merasakan pahitnya hidup
Sebagian menjadi korban gas elpiji
Sebagian terlantar di jalanan
Sebagian tak mengenal ayah dan ibu tercinta
Ada pula yang mengakhiri hidup akibat kerasnya kehidupan
Senyuman polos seolah lenyap
Canda tawa mendadak hilang
Kembalikan semua itu
Bagi malaikat-malaikat kecil
Arlin Widya Safitri
Bandung, 23 Juli 2010 (Memperingati Hari Anak Nasional)
Senin, 12 Juli 2010
Spanyol Sang Juara
Berjuta pasang mata memandangmu
Berjuta manusia mengharapkanmu
Berjuta manusia bersatu dari malam sampai pagi hari
Kegigihan menjadi sebuah keberhasilan
Semangat pantang mundur menjadi sebuah keberhasilan
Perjuangan menjadi sebuah keberhasilan
Kebersamaan menjadi sebuah keberhasilan
Gol! Gol! Gol!
Semangat! Semangat! Semangat!
Sebuah penantian yang begitu melelahkan
Penantian menuju gerbang kemenangan
Hidup Spanyol! Hidup Spanyol!
Spanyol Sang Juara!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 12 Juli 2010
Berjuta manusia mengharapkanmu
Berjuta manusia bersatu dari malam sampai pagi hari
Kegigihan menjadi sebuah keberhasilan
Semangat pantang mundur menjadi sebuah keberhasilan
Perjuangan menjadi sebuah keberhasilan
Kebersamaan menjadi sebuah keberhasilan
Gol! Gol! Gol!
Semangat! Semangat! Semangat!
Sebuah penantian yang begitu melelahkan
Penantian menuju gerbang kemenangan
Hidup Spanyol! Hidup Spanyol!
Spanyol Sang Juara!
Arlin Widya Safitri
Bandung, 12 Juli 2010
Ladang Yang Kini Gersang
Ladang yang dahulu hijau
Ladang yang dahulu digenangi air
Ladang yang dahulu tempat bermain burung-burung kecil
Pagi hari dihiasi embun pagi
Pagi hari dihiasi tanaman hijau melambai-lambai
Pagi hari dihiasi kicauan burung-burung kecil sambil menari-nari di angkasa
Dalam hitungan waktu semua telah berlalu
Ladang yang kini gersang
Ladang yang kini tak lagi digenangi air
Ladang yang kini bukan lagi tempat bermain burung-burung kecil
Pagi hari dihiasi bebatuan
Pagi hari dihiasi buldoser
Pagi hari dihiasi pekerja-pekerja membangun kerajaan bagi Sang Raja
Arlin Widya Safitri
Bandung, 04 Juli 2010
Ladang yang dahulu digenangi air
Ladang yang dahulu tempat bermain burung-burung kecil
Pagi hari dihiasi embun pagi
Pagi hari dihiasi tanaman hijau melambai-lambai
Pagi hari dihiasi kicauan burung-burung kecil sambil menari-nari di angkasa
Dalam hitungan waktu semua telah berlalu
Ladang yang kini gersang
Ladang yang kini tak lagi digenangi air
Ladang yang kini bukan lagi tempat bermain burung-burung kecil
Pagi hari dihiasi bebatuan
Pagi hari dihiasi buldoser
Pagi hari dihiasi pekerja-pekerja membangun kerajaan bagi Sang Raja
Arlin Widya Safitri
Bandung, 04 Juli 2010
Jumat, 09 Juli 2010
Terbaring
Terbaring di tempat tidur
Ditemani selimut tebal
Beragam obat menghiasi sudut ruang
Kasih sayang ibu menyertai
Tak luput do'a terucap
Mungkinkah Tuhan amat menyayangiku?
Arlin Widya Safitri
Bandung, 3 - 5 Juli 2010
Ditemani selimut tebal
Beragam obat menghiasi sudut ruang
Kasih sayang ibu menyertai
Tak luput do'a terucap
Mungkinkah Tuhan amat menyayangiku?
Arlin Widya Safitri
Bandung, 3 - 5 Juli 2010
Langganan:
Postingan (Atom)