Dengan kasih sayang
kita simpan bedil dan kelewang.
Punahlah gairah pada darah.
Jangan!
Jangan dibunuh para lintah darat
ciumlah mesra anak jadah tak berayah
dan sumbatkan jarimu pada mulut peletupan
kerna darah para bajak dan perompak
akan mudah mendidih oleh pelor.
Mereka bukan tapir atau badak
hatinya pun berurusan cinta kasih
seperti jendela terbuka bagi angin sejuk!
Kita yang sering kehabisan cinta untuk mereka
cuma membenci yang nampak rompak.
Hati tak bisa berpelukan dengan hati mereka.
Terlampau terbatas pada lahiriah masing pihak.
Lahiriah yang terlalu banyak meminta!
Terhadap sajak yang paling utopis
bacalah dengan senyuman yang sabar.
Jangan d benci kaum pembunuh.
Jangan biarkan anak bayi mati sendiri.
Kere-kere jangan mengemis lagi.
Dan terhadap penjahat yang paling laknat
pandanglah dari hati jendela hati yang bersih.
(Empat Kumpulan Sajak, 1961)
W.S. Rendra
Tampilkan postingan dengan label puisi W.S. Rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi W.S. Rendra. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 24 Oktober 2009
Minggu, 04 Oktober 2009
Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam
Bismillahir rohmanir rohiim
Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku
yang menyembul dari selimut.
Aku membuka mata
dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara
di dalam jiwa.
Burung-burung terbakar di langit
dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin
jatuh di atas air
hanyut di kali, dibawa ke samodra,
disantap oleh kawanan hiu
yang lalu menggelepar
jumpalitan bersama gelombang.
Aku merindukan desaku
lima belas kilo dari Rangkasbitung.
Aku merindukan nasi merah,
ikan pepes, desir air menerpa batu,
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.
Musna. Musna. Musna.
Para turis motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota
bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan.
Dan akhirnya
digusur atau ditangkapi
disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong
selalu siap membekali para penguasa
dengan semprotan antihama.
Musna. Musna. Musna.
Kini aku di sini. Di Rotterdam.
Menjelang subuh. Angin santer.
Jendela tidak terbuka,
tapi tirainya aku singkapkan.
Kaca basah. Musim gugur.
Aku mencium bau muntah.
Orang negro histeri ketakutan
dikejar teror orang kulit putih
di tanah leluhurnya sendiri
di Afrika Selatan.
Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan.
Dan lantaran ada tambang intan disana,
kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih
juga termasuk yang demokrat,
memalingkan muka,
bergumam seperti orang bego,
dan mengulurkan tangan di bawah keja,
melakukan kerja sama dagang
dengan para penindas itu.
Dusta. Dusta. Dusta.
Ya Allah Yang Maharahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku akan berenang melawan arus?
Langit nampak dari jendela,
Ada hujan bulu-bulu angsa.
Aku hilang di dalam kegagapan.
Ada trem lewat.
Trem? Buldoser? Panser?
Apakah aku akan menelepon Linde?
Atau Adrian?
Berapa lama akan sampai
kalau sekarang aku menulis surat
kepada Makoto Oda di Jepang?
Sia-sia. Musna. Dusta.
Rotterdam! Rotterdam!
Hiruk pikuk suara pasar di Jakarta.
Bau daging yang terbakar.
Biksu di Vietnam protes membakar diri.
Perang saudara di India yang abadi.
Aku termangu.
Apakah aku akan menyalakan lampu?
Terdengar lonceng berdentang.
Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang?
Ayahku di Rangkasbitung selalu bertany:
Kapan kamu akan menikah?
Apakah kamu akan menikah dengan
perempuan Indonesia atau Belanda?
Kapan kamu akan memberiku seorang cucu?
Apakh lampu akan kunyalakan?
Di Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang.
Kenapa aku harus punya anak?
Kalau perang dunia ketiga meletus
nuklir digunakan,
angin bertiup,
hujan turun,
setiap mega menjadi ancaman.
Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini?
Rambut rontok. Kulit terkelupas.
Ampas bencana tidak berdaya.
Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan
tak mungkin kamu kembali mengungsi
ke dalam rahim ibumu!
Suara apakah itu?
Electronic music?
Jam berapa sekarang?
Apakah sudah terlambat untuk salat subuh?
Buku-buku kuliah di atas meja.
Tanganku menjamah kaca jendela.
Dan dari jauh datang mendekat:
wajahku.
Apakah yang sedang aku lakukan?
Ya Allah Yang Maharahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku harus berenang melawan arus?
Astaga! Pertanyaan apa ini!
Apakah aku takut? Ataukah aku menghiba?
Apakah aku takut lalu menghiba?
Pertanyaan apa ini!
Ya Allah Yang Maharahman.
Aku akan menelepon Linde.
dan juga Adrian.
Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda.
Tanganku mengepal di dalam air
tercemar smph peradban.
Tidak perlu aku meras malu
untuk bicara dengan imanku.
Allah Yang Maharahman,
imanku adalah pengalamanku.
Bojong Gede
6 Nopember 1990
(dari Orang-orang Rangkasbitung, 1993)
W.S. Rendra
Allah! Allah!
Napasmu menyentuh ujung jari-jari kakiku
yang menyembul dari selimut.
Aku membuka mata
dan aku tidak bangkit dari tidurku.
Aku masih mengembara
di dalam jiwa.
Burung-burung terbakar di langit
dan menggelepar di atas bumi.
Bunga-bunga apyun diterbangkan angin
jatuh di atas air
hanyut di kali, dibawa ke samodra,
disantap oleh kawanan hiu
yang lalu menggelepar
jumpalitan bersama gelombang.
Aku merindukan desaku
lima belas kilo dari Rangkasbitung.
Aku merindukan nasi merah,
ikan pepes, desir air menerpa batu,
bau khusus dari leher wanita desa,
suara doa di dalam kabut.
Musna. Musna. Musna.
Para turis motel dan perkebunan masuk desa.
Gadis-gadis desa lari ke kota
bekerja di panti pijat,
para lelaki lari ke kota menjadi gelandangan.
Dan akhirnya
digusur atau ditangkapi
disingkirkan dari kehidupan.
Rakyat kecil bagaikan tikus.
Dan para cukong
selalu siap membekali para penguasa
dengan semprotan antihama.
Musna. Musna. Musna.
Kini aku di sini. Di Rotterdam.
Menjelang subuh. Angin santer.
Jendela tidak terbuka,
tapi tirainya aku singkapkan.
Kaca basah. Musim gugur.
Aku mencium bau muntah.
Orang negro histeri ketakutan
dikejar teror orang kulit putih
di tanah leluhurnya sendiri
di Afrika Selatan.
Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan.
Dan lantaran ada tambang intan disana,
kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih
juga termasuk yang demokrat,
memalingkan muka,
bergumam seperti orang bego,
dan mengulurkan tangan di bawah keja,
melakukan kerja sama dagang
dengan para penindas itu.
Dusta. Dusta. Dusta.
Ya Allah Yang Maharahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku akan berenang melawan arus?
Langit nampak dari jendela,
Ada hujan bulu-bulu angsa.
Aku hilang di dalam kegagapan.
Ada trem lewat.
Trem? Buldoser? Panser?
Apakah aku akan menelepon Linde?
Atau Adrian?
Berapa lama akan sampai
kalau sekarang aku menulis surat
kepada Makoto Oda di Jepang?
Sia-sia. Musna. Dusta.
Rotterdam! Rotterdam!
Hiruk pikuk suara pasar di Jakarta.
Bau daging yang terbakar.
Biksu di Vietnam protes membakar diri.
Perang saudara di India yang abadi.
Aku termangu.
Apakah aku akan menyalakan lampu?
Terdengar lonceng berdentang.
Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang?
Ayahku di Rangkasbitung selalu bertany:
Kapan kamu akan menikah?
Apakah kamu akan menikah dengan
perempuan Indonesia atau Belanda?
Kapan kamu akan memberiku seorang cucu?
Apakh lampu akan kunyalakan?
Di Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang.
Kenapa aku harus punya anak?
Kalau perang dunia ketiga meletus
nuklir digunakan,
angin bertiup,
hujan turun,
setiap mega menjadi ancaman.
Jadi anakku nanti harus mengalami semua ini?
Rambut rontok. Kulit terkelupas.
Ampas bencana tidak berdaya.
Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan
tak mungkin kamu kembali mengungsi
ke dalam rahim ibumu!
Suara apakah itu?
Electronic music?
Jam berapa sekarang?
Apakah sudah terlambat untuk salat subuh?
Buku-buku kuliah di atas meja.
Tanganku menjamah kaca jendela.
Dan dari jauh datang mendekat:
wajahku.
Apakah yang sedang aku lakukan?
Ya Allah Yang Maharahman!
Tanganku mengambang di atas air
bersama sampah peradaban.
Apakah aku harus berenang melawan arus?
Astaga! Pertanyaan apa ini!
Apakah aku takut? Ataukah aku menghiba?
Apakah aku takut lalu menghiba?
Pertanyaan apa ini!
Ya Allah Yang Maharahman.
Aku akan menelepon Linde.
dan juga Adrian.
Aku akan menulis surat kepada Makoto Oda.
Tanganku mengepal di dalam air
tercemar smph peradban.
Tidak perlu aku meras malu
untuk bicara dengan imanku.
Allah Yang Maharahman,
imanku adalah pengalamanku.
Bojong Gede
6 Nopember 1990
(dari Orang-orang Rangkasbitung, 1993)
W.S. Rendra
Rabu, 16 September 2009
Kupanggil Namamu
Sambil menyebrangi sepi
kupanggili namamu, wanitaku.
Apakah kau tak mendengarku?
Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah
memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala.
Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa.
Sia-sia.
Tak ada yang bisa kujangkau.
Sempurnalah kesepianku.
Angin pemberontakan
menyerangi langit dan bumi.
Dan dua belas ekor serigala
muncul dari masa silam
merobek-robek hatiku yang celaka.
Berulang kali kupanggil namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu.
Kupanggil namamu.
Kerna engkaurumah di lembah.
Dan Tuhan?
Tuhan adalah seniman tak terduga
yang selalu sebagai sediakala
hanya memperdulikan hal-hal yang besar saja.
Seribu jari masa silam
menuding kepadaku.
Tidak.
Aku tak bisa kembali.
Sambil terus memanggili namamu
amarah pemberontakanku yang suci
bangkit dengan perkasa malam ini
dan menghamburkan diri ke cakrawala
yang sebagai gadis telanjang
membukakan diri padaku. Penuh. Dan perawan.
Keheningan sesudah itu
sebagai telaga besar yang beku
dan aku pun beku ditepinya.
Wajahku. Lihatlah, wajahku.
Terkaca di keheningan.
Berdarah dan luka=luka
dicakar masa silamku.
(dari Blues untuk Bonnie, 1971)
W.S. Rendra
kupanggili namamu, wanitaku.
Apakah kau tak mendengarku?
Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah
memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala.
Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa.
Sia-sia.
Tak ada yang bisa kujangkau.
Sempurnalah kesepianku.
Angin pemberontakan
menyerangi langit dan bumi.
Dan dua belas ekor serigala
muncul dari masa silam
merobek-robek hatiku yang celaka.
Berulang kali kupanggil namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu.
Kupanggil namamu.
Kerna engkaurumah di lembah.
Dan Tuhan?
Tuhan adalah seniman tak terduga
yang selalu sebagai sediakala
hanya memperdulikan hal-hal yang besar saja.
Seribu jari masa silam
menuding kepadaku.
Tidak.
Aku tak bisa kembali.
Sambil terus memanggili namamu
amarah pemberontakanku yang suci
bangkit dengan perkasa malam ini
dan menghamburkan diri ke cakrawala
yang sebagai gadis telanjang
membukakan diri padaku. Penuh. Dan perawan.
Keheningan sesudah itu
sebagai telaga besar yang beku
dan aku pun beku ditepinya.
Wajahku. Lihatlah, wajahku.
Terkaca di keheningan.
Berdarah dan luka=luka
dicakar masa silamku.
(dari Blues untuk Bonnie, 1971)
W.S. Rendra
Jumat, 04 September 2009
Ballada Penyaliban
Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.
Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
-Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!
Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.
-Perempuan!
mengapa kau tangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
-Bapa, selesailah semua!
(dari Ballada Orang-orang Tercinta, 1957)
W.S. Rendra
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.
Mentari meleleh
segala menetes dari luka
dan leluhur kita Ibrahim
berlutut, dua tangan pada Bapa:
-Bapa kami di sorga
telah terbantai domba paling putih
atas altar paling agung.
Bapa kami di sorga
Berilah kami bianglala!
Ia melangkah ke Golgota
jantung berwarna paling agung
mengunyah dosa demi dosa
dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.
-Perempuan!
mengapa kau tangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya
menyiram jalanan kering
jalanan liang-liang jiwa yang papa
dan pembantaian berlangsung
atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana
anggur darah lambungnya sendiri
dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
-Bapa, selesailah semua!
(dari Ballada Orang-orang Tercinta, 1957)
W.S. Rendra
Langganan:
Postingan (Atom)