Tampilkan postingan dengan label puisi Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi Soe Hok Gie. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2010

tanpa judul (puisi Soe Hok Gie)

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekah.
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza.

Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu.
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi.

Tapi aku ingin mati disisimu, manisku.
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya.
Tentang tujuan hidup yang tak satupun setan yang tahu.

Mari sini sayangku.
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku.
Tegaklah ke langit luas atau awan mendung.
Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak kan pernah kehilangan apa-apa.



Selasa, 11 November 1969
-Soe Hok-gie

Sabtu, 09 Januari 2010

puisi Soe Hok Gie (tanpa judul)

Saya mimpi tentang sebuah dunia,
Dimana ulama? buruh dan pemuda,
bangkit dan berkata? Stop semua kemunafikan,
Stop semua pembunuhan atas nama apapun.

Dan para politisi di PBB,
Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu
dan beras,
Buat anak-anak yang lapar di tiga benua,
Dan lupa akan diplomasi.

Tak ada lagi ras benci pada siapa pun,
Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa
apa pun,

Dan melupakan perang dan kebencian,
Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia
yang lebih baik.

Tuhan ? Saya mimpi tentang dunia tadi,
Yang tak pernah akan datang.


Salem, 29 Oktober 1968
-Soe Hok Gie-

Rabu, 06 Januari 2010

Kepada Pejuang-Pejuang Lama

Kepada Pejuang-Pejuang Lama

Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.
Dan datanglah kau manusia-manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.

Dan kita, para pejuang lama.
Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai
Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)
(Kau tentu masih ingat suara-suara di belakang..."mereka gila")
Hai, kawan-kawan pejuang lama.
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita atau pun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenang-kenangan dan kejujuran kita.
Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina
kapal tua ini
di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)

Tempat kita, petualang-petualang masa depan dan pemberontak-
pemberontak rakyat
Di sana...
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh
gelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya.
Ayo,
Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak tak ada
tempat di kapal ini. (Teks sudah disesuaikan denagn EYD)


Desember 1965

Kamis, 31 Desember 2009

Mandalawangi - Pangrango (puisi Soe Hok Gie)

sendja ini, ketika matahari mulai turun
ke dalam djurang-djurang mu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbitjara
tentang manfaat dan guna
aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

"hidup adalah soal keberanian
menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, dan hadapilah"

dan antara ransel-ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampaui batas-batas hutanmu
melampaui batas-batas djurangmu
aku tjinta padamu Pangrango
karena aku tjinta pada keberanian hidup



Djakarta, 19-7-1966
Soe Hok Gie