Kamis, 26 November 2009

Senandung Nyanyian Dalam Bus

Laju angin berhembus menyusup ke dalam kaca jendela.
Air hujan yang membasahi bumi ini terasa menyejukkan hati.
Diiringgi senandung nyanyian silih berganti dengan tema yang sama.
Seolah memahami apa yang ada di dalam hati.

Senandung nyanyian yang menghangatkan tubuh, jiwa dan pikiran.
Senandung nyanyian yang seolah tak ingin membiarkan aku dalam kosong.
Senandung nyanyian yang melengkapi indahnya hari ini.




Jatinangor, 24 November 2009

Hari Ini

Hari ini indah
dan aku ingin tetap berada disini.
Waktu begitu cepat berlalu
sehingga aku tak dapat menikmati.
Tanpa ada kesempatan
untuk sekedar menyapa hari ini.


Jatinangor, 24 November 2009

Sabtu, 21 November 2009

3 Buah Kakao

Hanya terjadi di negeri ini. Sebuah negeri yang lemah dalam penegakkan hukum. Sulitnya menemukan keadilan. Keadilan telah lama menumpuk di tumpukkan gunung sampah dan hampir membusuk.

Seorang ibu tua telah lupa akan negeri ini yang tergadaikan. Seorang ibu tua telah lupa alam beserta isinya kini milik para pemodal. Seorang ibu tua telah lupa bahwa kini tak dapat menikmati hasil alam dengan gratis.

Ketika tiga buah kakao tak dapat dinikmati lagi dengan gratis. Ketika tiga buah kakao membuka mata ibu tua akan kejamnya realita kehidupan. Ketika tiga buah kakao menjadi bukti ketidakadilan.

Miris melihat realita kehidupan di negeri ini. Ketika kaum kecil dipaksa dengan waktu singkat mematuhi hukum. Di lain pihak kaum besar di biarkan berlarut-larut dalam mematuhi hukum.

Benar adanya hukum di negeri ini hanya memandang suatu kekuatan. Hanya mengadopsi persaingan dunia hewan di alam bebas. Si kuat akan menang dan si lemah akan kalah.


Bandung, 20 November 2009

Do'a Untuk Teteh

Mungkin banyak sekali sifat yang selalu bertentangan antara aku dan Teteh.
Ketika perselisihan sering terjadi dan tak dapat terbantahkan lagi.
Semua itu tak akan membuatku untuk tak mau mendo'akannya.

Bahkan banyak yang ingin aku panjatkan do'a kepada Allah SWT untuk meredakan ini semua.
Aku ingin semua ini berakhir dengan damai dan indah.

Ya Allah SWT Lindungilah Teteh dimana pun ia berada.
Ya Allah SWT Berilah kesehatan lahir dan bathin untuk Teteh.
Ya Allah SWT Perbaikilah hubungan diantara Teteh dengan Mamah.
Ya Allah SWT Bukakanlah pintu hati Teteh.
Ya Allah SWT Berilah jodoh untuk Teteh, yang terbaik.
Ya Allah SWT Masukkanlah Teteh ke dalam golongan-Mu yang sedikit, penghuni surga.
Ya Allah SWT Sayangilah Teteh seperti ia menyayangiku di waktu kecil.
Amiin Yaa Robbal 'Alamin.



Bandung, 15 November 2009

Jalur Gaza

Mengapa perang tak bisa dihentikan?
Tak sadarkah bahwa telah banyak korban berjatuhan dalam situasi seperti ini?
Hanya mementingkan ego, kekuasaan dan kepentingan golongan.

Seharusnya mereka tahu itu tak hanya berdampak di negeri mereka saja.
Tengoklah negeri lain pun terkena dampaknya.
Tak hanya fisik sebagai korban namun psikologi pun sebagai korban.

Tepatnya negeri ini pun terkena dampak psikologi.
Adanya kasus penganiayaan yang terjadi di SMAN 82 Jakarta.
Sistem senioritas memakai istilah "Jalur Gaza" yang tak diperkenankan bagi sang junior.
Ketika sang junior melintasi "Jalur Gaza" habislah mereka di hantam sang senior.

Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?
Apakah tak cukup menambah korban demi korban?

Bagi kalian di negeri perang
Tak ada kebosanan kah di dalam diri kalian?


Bandung, 7 November 2009

Cicak VS Buaya

Cicak melawan buaya, sebuah perumpamaan yang dipakai dalam pertentangan konflik antara "KPK" dan "Polisi".
Perumpamaan yang ampuh tersebut pertama kali dalam Majalah Tempo, 16 Juni 2009.
Sebuah metafor yang memberi imajinasi akan adanya ketidakseimbangan.

Cicak merupakan reptil kecil. Tak lebih 10 sentimeter panjangnya. Hidup di dinding-dinding rumah. Mangsanya nyamuk-nyamuk kecil.
Buaya merupakan reptil besar. Panjangnya bahkan sampai 8 meter. Kulitnya kasar keras, moncongnya menakutkan dan mendadak bisa menyerang. Pembunuh. Mangsanya hewan lain, juga manusia.

Muncul imajinasi dari sebuah metafor.
Metafor bukan sebingkai hiasan.
Metafor bukan sebuah simbol.

Dari sebuah metafor itu muncul imajinasi yang mengatakan adanya adu kekuatan.
Pertentangan konflik yang hanya dapat diselesaikan oleh kekuatan.
Layaknya perseteruan dunia hewan di alam bebas.
Akhirnya tak berdasarkan hukum sebagai aturan bersama.

Lalu dimana keberadaan hukum saat ini?
Benarkah hukum telah menghilang?
Tak mudah untuk menemukan dan kembali menegakkannya.


Bandung, 3 November 2009

Sengketa Tanah

Sekilas melihat konflik yang terjadi antara aparat keamanan dengan rakyat.
Adapun konflik yang terjadi antara warga dengan warga lainnya.
Satu permasalahan yang sama yakni sengketa tanah.

Konflik dibumbui rasa benci, amarah, gusar bahkan tak heran terjadi adu fisik dengan menggunakan senjata.
Diantara mereka tak lagi memedulikan "nilai manusia", hanya memedulikan "sebidang tanah dan bangunan".
Mungkin saat ini manusia tak ada nilainya lagi karena jauh dibawah nilai suatu benda.

Yang menjadi pertanyaan sebenarnya tanah itu milik siapa?
Benarkah tanah itu milik aku, kamu, mereka dan kalian?


Jatinangor, 20 Oktober 2009